Bersama dengan perih ku mengingat
Bermandikan rindu aku termenung
Berlandaskan kecewa ku melupakan
Benar bahagia memang sempat
mampir
Namun hanya tuk bermalam
titipkan luka
Perihnya yang kini jadi
primadona jiwa
Alasan utama dari landasan
murka
Aku kecewa karna membuka
Harusnya hati tak ku mainkan disandiwara
Kau yang putih tiba-tiba menjelma hitammu
Namun pelita singgah bersama
Sirnah bagai rembulan yang takan disunting sang mentari
Nyatanya ini mata hati
yang mencari merpati
Bukan yang terbang kesana
kemari, itu sudah biasa
Yang penting hinggap disatu
rumah ibadah
Bukan bertengger diatap gereja
Padam. Ku harap engkau sementara. Seperti yang sudah-sudah